Tiongkok Memajukan Teknologi Pengisian Bahan Bakar dan De-Orbit Satelit di Orbit

8

Tiongkok telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperpanjang masa pakai satelit dan mengelola puing-puing orbital melalui uji pengisian bahan bakar di orbit yang sukses menggunakan satelit yang dilengkapi dengan “lengan gurita” robotik. Pencapaian ini menempatkan Tiongkok di garis depan dalam teknologi luar angkasa yang penting ini, yang sebagian besar masih belum dikembangkan oleh NASA dan pesaingnya dari Barat.

Pengisian Bahan Bakar Satelit: Sebuah Game Changer

Pesawat ruang angkasa eksperimental, Hukeda-2, menyelesaikan tes pengisian bahan bakar pertamanya pada tanggal 24 Maret, memasang lengan robotiknya dengan sebuah port pada dirinya sendiri. Tonggak sejarah ini melanjutkan keberhasilan Tiongkok sebelumnya pada tahun 2025 dengan satelit Shijian-25 dan Shijian-21, yang menandai pengisian bahan bakar antar-satelit pertama yang dikonfirmasi.

Mengapa hal ini penting: Satelit pada akhirnya kehabisan bahan bakar, menyebabkan satelit kehilangan orbit dan terbakar di atmosfer. Pengisian bahan bakar memungkinkan operator untuk menjaga operasional pesawat ruang angkasa yang ada lebih lama, menjadikannya lebih hemat biaya dan berkelanjutan. Hal ini mengurangi kebutuhan akan peluncuran produk pengganti yang sering dan mahal.

Pendekatan Tiongkok: Isi Bahan Bakar, Gunakan Kembali, Daur Ulang

Tiongkok kemungkinan akan memanfaatkan teknologi ini untuk mempertahankan konstelasi Qianfan yang berkembang pesat—pesaing Starlink milik SpaceX—yang berencana mengerahkan 15.000 satelit pada tahun 2030. Berbeda dengan SpaceX, yang memprioritaskan peluncuran pesawat ruang angkasa baru secara berkala, Tiongkok tampaknya fokus pada perpanjangan masa operasional satelit yang sudah ada.

Mengatasi Masalah Puing-puing Orbital

Meningkatnya jumlah satelit yang tidak berfungsi di orbit rendah Bumi (LEO) menimbulkan ancaman yang semakin besar terhadap operasi luar angkasa. Untuk mengatasi hal ini, Hukeda-2 akan mengerahkan balon setinggi 8 kaki untuk meningkatkan hambatan atmosfer dan mempercepat de-orbitnya.

Implikasi: Jika berhasil, metode ini dapat memungkinkan satelit-satelit Tiongkok di masa depan untuk kembali ke Bumi tanpa memerlukan pembakaran de-orbiting yang boros bahan bakar. Namun, hal ini tidak mungkin menyelesaikan masalah kepadatan yang lebih luas di LEO, terutama jika SpaceX melanjutkan rencananya untuk meluncurkan satu juta pusat data orbital.

Dampak Lingkungan dari Masuknya Kembali Satelit

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa masuknya kembali satelit melepaskan polusi logam tingkat tinggi ke atmosfer bagian atas. Dampak jangka panjang dari polusi ini masih belum diketahui, hal ini menunjukkan semakin besarnya kekhawatiran terhadap lingkungan.

Gambaran besarnya: Kemajuan Tiongkok dalam pengisian bahan bakar satelit dan de-orbiting menunjukkan pendekatan strategis terhadap keberlanjutan ruang angkasa dalam jangka panjang. Meskipun teknologi ini menawarkan solusi untuk memperpanjang usia satelit dan mengelola puing-puing, tantangan yang lebih luas yaitu kepadatan orbit dan pencemaran lingkungan masih menjadi tantangan besar bagi masa depan eksplorasi ruang angkasa.

попередня статтяVictor Glover Menjadi Astronot Kulit Hitam Pertama yang Mengorbit Bulan
наступна статтяTentang Asal Usul Seks: Menyelami Ilmu Reproduksi yang Aneh dan Menakjubkan