Menjembatani Kesenjangan: Ilmuwan Menciptakan Neuron Buatan yang Mampu Berkomunikasi dengan Sel Otak Hidup

2

Para insinyur telah mencapai tonggak penting dalam bioelektronik dengan mengembangkan neuron buatan tercetak yang dapat “berbicara” dengan sel biologis di otak yang hidup. Terobosan ini, yang baru-baru ini diterbitkan di Nature Nanotechnology, menawarkan peta jalan potensial untuk dua bidang transformatif: komputasi neuromorfik yang sangat efisien dan antarmuka otak-komputer (BCI) yang canggih.

Tantangan: Mengapa Silikon Gagal Otak

Untuk memahami mengapa penemuan ini penting, kita harus melihat ketidaksesuaian mendasar antara teknologi saat ini dan biologi manusia.

Komputasi tradisional bergantung pada chip silikon—struktur dua dimensi kaku yang terbuat dari transistor tetap. Sebaliknya, otak manusia adalah matriks 3D dinamis yang terdiri dari sel-sel fleksibel. Neuron biologis terus berkembang; koneksi mereka menguat seiring penggunaan dan memudar jika diabaikan.

Antarmuka otak-komputer saat ini sering kali bermasalah karena mereka berupaya berkomunikasi dengan jaringan saraf halus menggunakan gelombang listrik “kasar” yang tidak sesuai dengan bahasa alami otak. Ketidakcocokan ini dapat menyebabkan integrasi yang buruk dan terbatasnya fungsionalitas.

Inovasi: Meniru “Spike”

Upaya sebelumnya untuk membuat neuron buatan umumnya terbagi dalam dua kubu:
1. Bahan organik lembut (seperti gel): Bahan ini meniru tekstur otak tetapi sering kali terlalu lambat untuk menyamai sinyal saraf.
2. Oksida logam keras: Ini cukup cepat namun kurang memiliki nuansa biologis.

Tim peneliti, yang dipimpin oleh Mark Hersam dari Northwestern University, mengatasi dilema ini dengan menggunakan tinta yang dapat dicetak yang mengandung molibdenum disulfida (semikonduktor) dan graphene (konduktor) pada substrat polimer fleksibel.

Meskipun polimer biasanya dipandang sebagai penghalang aliran listrik, tim menemukan bahwa polimer dapat dimanfaatkan untuk keuntungannya. Dengan mengontrol secara tepat bagaimana polimer memanas dan terurai sebagian, mereka menciptakan “filamen energi” yang sangat kecil. Hal ini memungkinkan perangkat menghasilkan “snap back negative differential resistance” —ledakan tiba-tiba dan penurunan energi berikutnya yang sangat mirip dengan cara “lonjakan” neuron sebenarnya.

Membuktikan Koneksi

Untuk menguji kemanjuran sel-sel buatan laboratorium ini, para peneliti menempatkan neuron buatan di samping irisan jaringan otak tikus. Hasilnya sangat menggembirakan: neuron biologis merespons sinyal buatan dengan kecepatan yang sama seperti terhadap sinyal alami. Hal ini menunjukkan bahwa otak dapat secara efektif “memecahkan kode” sinyal-sinyal sintetik ini seolah-olah sinyal tersebut berasal dari biologis.

Cakrawala Masa Depan dan Tantangan yang Masih Ada

Implikasi dari teknologi ini sangat luas, mulai dari terobosan medis dan komputasi hingga:
Komputasi Neuromorfik: Menciptakan perangkat keras AI yang meniru arsitektur otak, sehingga secara drastis mengurangi konsumsi energi besar-besaran yang dibutuhkan oleh AI digital saat ini.
Prostetik Medis: Mengembangkan antarmuka yang lebih mulus untuk mengontrol anggota tubuh robot atau alat bantu.
Regenerasi saraf: Berpotensi menggunakan neuron buatan untuk menggantikan sel yang rusak pada pasien yang menderita penyakit degeneratif seperti Alzheimer.

Jalan ke Depan

Meskipun terdapat kemajuan, para ahli mengingatkan bahwa kita belum siap untuk melakukan implan otak permanen. Timothée Levi, seorang profesor bioelektronik, mencatat bahwa meskipun kita dapat mengendalikan neuron-neuron ini untuk jangka waktu pendek, stabilitas jangka panjang masih menjadi kendala utama.

Lebih jauh lagi, satu neuron hanyalah satu bagian dari teka-teki. “Masalah terdepan” yang dihadapi para ilmuwan adalah integrasi. Untuk benar-benar mereplikasi otak, peneliti harus mencari cara untuk menghubungkan neuron buatan ini melalui sinapsis buatan untuk menciptakan sirkuit yang kompleks dan berfungsi.

“Kami memiliki serangkaian perangkat yang meniru berbagai elemen otak, namun kami perlu mengintegrasikannya ke dalam sirkuit yang dapat mencapai fungsionalitas penuh.” — Mark Hersam, Universitas Northwestern


Kesimpulan: Meskipun kemampuan untuk menyinkronkan neuron buatan dan biologis merupakan pencapaian penting, tantangan besar berikutnya terletak pada menghubungkan masing-masing komponen ini ke dalam jaringan saraf yang kompleks dan tahan lama.

попередня статтяCuriosity Rover NASA Mengungkap Koleksi Molekul Organik Pemecah Rekor di Mars